Budidaya dan Perawatan Gaharu

 
Gaharu
GAHARU merupakan tanaman yang mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi, sehingga sangat tepat apabila dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat Indonesia. Hampir semua bagian pohon gaharu ini dapat dimanfaatkan untuk bahan baku produk, praktis tidak ada bagian yang terbuang. Kayu gaharu yang terinfeksi atau disebut gubal mempunyai nilai jual yang sangat tinggi, sementara gubal gaharu kualitas rendah dapat disuling untuk produksi minyak dengan harga yang sangat menjanjikan. Daun gaharu dapat dimanfaatkan untuk pembuatan teh gaharu. Turunan produk gaharu pun semakin hari semakin meningkat variasinya, menempatkan pohon gaharu sebagai pohon industri.
Manfaat gaharu diantaranya adalah pewangi rungan, bahan baku industri parfum ekslusif, bahan baku industri kosmetika, bahan baku untuk bahan obat (kanker, asmatik, perangsang, dll), bahan HIO (untuk ritual agama hindu, budha dan Kong Hu Chu), bahan Kohdoh (jepang), serta daunnya dimanfaatkan untuk teh hijau (agarwood tea). Harga gubal gaharu bervariasi tergantung grade(kualitas), harga gubal gaharu grade super di pasar lokal mencapai Rp 25 jt/kg, sedangkan harga terendah Rp 50 ribu/kg untuk kayu gaharu yang tidak mengandung resin sama sekali.
Negara potensial pemakai gaharu (pengimpor) adalah Saudi Arabia, Kuwait Yaman, United Emirat, Turki, Singapura, Jepang, dan Amerika. Kebutuhan gaharu dari tahun ke tahun terus meningkat berbanding lurus dengan harganya. Sementara stok gaharu alam semakin menurun akibat ditebang terus-menerus tanpa diimbangi penanaman. Kebutuhan gaharu dunia terus meningkat sehubungan dengan semakin meningkatnya pemanfaatan gaharu terutama untuk obat-obatan di China. Kebutuhan obat merupakan kebutuhan pokok umat manusia, yang keberadaanya sangat dibutuhkan manusia.

Gaharu dapat ditanam mulai dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 750 mdpl.
  • Tinggi pohon mencapai 40 m dengan diameter batang mencapai 60 cm.  Permukaan batangnya licin, berwarna keputih-putihan, kadang-kadang beralur. Kayu biasanya keras.
  • Bentuk daun lonjong agak memanjang dengan ukuran panjang 6-8 cm, lebar 3-3,5 cm. Ujung daun meruncing, daun kering biasanya berwarna abu-abu kehijauan, tepi daun agak bergelombang, melengkung, kedua permukaannya licin dan mengkilap. Tulang daun sekunder 12-16 pasang.
  • Bunga terdapat pada ujung ranting, ketiak daun. atau kadang-kadang di bawah ketiak daun.  Bunga berbentuk lancip, panjangnya sampai 5 mm, berwarna hijau kekuningan atau putih, berbau harum. Buah berbentuk bulat telur atau agak lonjong, panjangnya sampai 4 cm, lebar 2,5 cm.  Bentuk biji bulat telur, tutupnya rapat oleh rambut yang berwarna merah.
Perbanyakan Bibit


bibit Gaharu

Secara umum, ada 2 (dua) cara perbanyakan bibit tanaman gaharu, yaitu dengan cara generatif dan vegetatif.
Cara Generatif
Secara generatif (biji), bibit Gaharu dapat diperoleh dari biji maupun secara puteran.
Pembuatan bibit gaharu dari biji, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan biji ini, yaitu :

  • Buah yang sudah tua di batang dikumpulkan pada musim buah.
  • Buah yang diperoleh dikeringkan selama beberapa hari dengan cara diangin-anginkan atau dijemur selama 2 (dua) jam pada pagi hari, yaitu antara jam 08.00-10.00.
  • Biji yang sudah kering ditaruh di dalam karung dan disimpan dengan baik, jangan sampai terkena air, lembab, berjamur atau dimakan serangga dan tikus, sampai waktunya untuk disemaikan.
  • Pembuatan bibit secara puteran
  • Tanaman Gaharu dapat dikembangbiakkan secara alami melalui pemencaran biji.  Pohon yang sehat biasanya dapat menghasilkan banyak biji dengan daya kecambah yang cukup tinggi.  Umumnya, pohon yang berasal dari biji baru bisa menghasilkan buah setelah berumur ± 8 (delapan) tahun.
  • Anakan gaharu dapat diambil pada awal musim penghujan.  Pengambilan anakan ini harus disertai dengan tanah disekitarnya dan dilakukan dengan hati-hati agar akar jangan sampai rusak.  Kemudian anakan tersebut ditempatkan di polybag dan dipelihara di bedengan sampai siap untuk ditanam.
Cara Vegetatif
Perbanyakan bibit tanaman gaharu secara vegetatif dapat dengan cangkok, okulasi, stek pucuk dan lain sebagainya.  Namun cara vegetatif ini memiliki kelemahan, antara lain :

  • Perakaran tanaman kurang lengkap, sehingga mudah roboh bila tertiup angin kencang.
  • Tanaman kurang tahan menghadapi keadaan kurang air, khususnya di musim kemarau panjang, karena sifat perakarannya yang dangkal dan kurang mampu mengambil air tanah.
Namun perbanyakan dengan cara vegetatif ini adalah bibit relatif lebih cepat dibandingkan dengan cara generatif.

Penanaman 

menanam Gaharu

Penanaman benih gaharu sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan di pagi hari sampai jam 11.00, dan dapat dilanjutkan pada jam 4 petang harinya.

Jarak Tanam
Jarak tanam 3x3 m (1.000 pohon/ha.), namun dapat juga 2.5x3 m sampai 2.5x5 m. Jika tanaman gaharu ditanam pada lahan yang sudah ditumbuhi tanaman lain, maka jarak tanaman gaharu minimal 3 m dari tanaman tersebut.

Lubang tanam
Ukuran lubang tanam adalah 40x40x40 cm. Lubang yang sudah digali dibiarkan minimal 1 minggu, agar lubang beraerasi dengan udara luar. Kemudian masukkan pupuk dasar, campuran serbuk kayu lapuk dan kompos dengan perbandingan 3:1 sampai mencapai ¾ ukuran lubang. Kemudian setelah beberapa minggu pohon gaharu, siap untuk ditanam.

Pemeliharaan
Pemupukan dapat dilakukan sekali 3 bulan, namun dapat juga setiap 6 bulan dengan kompos sebanyak 3 kg melalui pendangiran dibawah canopy. Penggunaan pupuk kimia seperti NPK dan majemuk dapat juga ditambahkan setiap 3 bulan dengan dosis rendah (5 gr/tanaman) setelah tanaman berumur 1 tahun, kemudian dosisnya bertambah sesuai dengan besarnya batang tanaman. Hama tanaman gaharu yang perlu diperhatikan adalah kutu putih yang hidup di permukaan daun bawah, bila kondisi lingkungan lembab. Pencegahan dilakukan dengan pemangkasan pohon pelindung agar kena cahaya matahari diikuti penyemprotan pestisida seperti. Pembersihan gulma dapat dilakukan 3 bulan sekali atau pada saat dipandang perlu.
Pemangkasan pohon dilakukan pada umur 3 sampai 5 tahun, dengan memotong cabang bagian bawah dan menyisakan 4 sampai 10 cabang atas. Pucuk tanaman dipangkas dan dipelihara cukup sekitar 5 m, sehingga memudahkan pekerjaan inokulasi gaharu.

Proses Pembentukan Gaharu
Gaharu dihasilkan tanaman sebagai respon dari masuknya mikroba yang masuk ke dalam jaringan yang terluka. Luka pada tanaman berkayu dapat disebabkan secara alami karena adanya cabang dahan yang patah atau kulit terkelupas, maupun secara sengaja dengan pengeboran dan penggergajian. Masuknya mikroba ke dalam jaringan tanaman dianggap sebagai benda asing sehingga sel tanaman akan menghasilkan suatu senyawa fitoaleksin yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap penyakit atau patogen. Senyawa fitoaleksin tersebut dapat berupa resin berwarna coklat dan beraroma harum, serta menumpuk pada pembuluh xilem dan floem untuk mencegah meluasnya luka ke jaringan lain. Namun, apabila mikroba yang menginfeksi tanaman dapat mengalahkan sistem pertahanan tanaman maka gaharu tidak terbentuk dan bagian tanaman yang luka dapat membusuk. Ciri-ciri bagian tanaman yang telah menghasilkan gaharu adalah kulit batang menjadi lunak, tajuk tanaman menguning dan rontok, serta terjadi pembengkakan, pelekukan, atau penebalan pada batang dan cabang tanaman. Senyawa gaharu dapat menghasilkan aroma yang harum karena mengandung senyawa guia dienal, selina-dienone, dan selina dienol. Untuk kepentingan komersil, masyarakat mengebor batang tanaman penghasil gaharu dan memasukkan inokulum cendawan ke dalamnya. Setiap spesies pohon penghasil gaharu memiliki mikroba spesifik untuk menginduksi penghasilan gaharu dalam jumlah yang besar. Beberapa contoh cendawan yang dapat digunakan sebagai inokulum adalah Acremonium sp., Cylindrocarpon sp., Fusarium nivale, Fusarium solani,Fusarium fusariodes, Fusarium roseum, Fusarium lateritium dan Chepalosporiumsp.

Proses Pembentukan Gaharu secara Buatan:


perawatan Gaharu

Teknologi sederhana untuk membentuk gaharu, diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Melukai batang pohon
  • Cara pembenihan mikroorganisme
  • Pemberian oli dan gula merah
  • Memasukan potongan gaharu
  • Cara bor spiral pada batang gaharu (Aquilaria malaccensis) yang berumur minimal 5 tahun

Spesifikasi
Gaharu dikelompokkan menjadi 3 (tiga) sortimen, yaitu gubal gaharu, kemedangan dan abu gaharu.

Cara Pemungutan
  • Gubal gaharu dan kemedangan diperoleh dengan cara menebang pohon penghasil gaharu yang telah mati, sebagai akibat terjadinya akumulasi damar wangi yang disebabkan oleh infeksi pada pohon tersebut.
  • Pohon yang telah ditebang lalu dibersihkan dan dipotong-potong atau dibelah-belah, kemudian dipilih bagian-bagian kayunya yang telah mengandung akumulasi damar wangi, dan selanjutnya disebut sebagai kayu gaharu.
  • Potongan-potongan kayu gaharu tersebut dipilah-pilah sesuai dengan kandungan damarnya, warnanya dan bentuknya.
  • Agar warna dari potongan-potongan kayu gaharu lebih tampak, maka potongan-potongan kayu gaharu tersebut dibersihkan dengan cara dikerok.
  • Serpihan-serpihan kayu gaharu sisa pemotongan dan pembersihan atau pengerokan, dikumpulkan kembali untuk dijadikan bahan pembuat abu gaharu.
Pengolahan Minyak Gaharu
Sebelum dijadikan bahan baku parfum, gaharu harus diolah terlebih dahulu untuk mendapatkan minyak dan senyawa aromatik yang terkandung di dalamnya. Sebagian kayu gaharu dapat dijual ke ahli penyulingan minyak yang biasanya menggunakan teknik distilasi uap atau air untuk mengekstraksi minyak dari kayu tersebut. Untuk mendapatkan minyak gaharu dengan distilasi air, kayu gaharu direndam dalam air kemudian dipindahkan ke dalam suatu tempat untuk menguapkan air hingga minyak yang terkandung keluar ke permukaan wadah dan senyawa aromatik yang menguap dapat dikumpulkan secara terpisah. Teknik distilasi uap menggunakan potongan gaharu yang dimasukkan ke dalam peralatan distilasi uap. Tenaga uap yang menyebabkan sel tanaman dapat terbuka sehingga minyak dan senyawa aromatik untuk parfum dapat keluar. Uap air akan membawa senyawa aromatik tersebut kemudian melalui tempat pendinginan yang membuatnya terkondensasi kembali menjadi cairan. Cairan yang berisi campuran air dan minyak akan dipisahkan hingga terbentuk lapisan minyak di bagian atas dan air di bawah. Salah satu metode digunakan saat ini adalah ekstraksi dengan [superkritikal CO2], yaitu CO2 cair yang terbentuk karena tekanan tinggi. CO2 cair berfungsi sebagai pelarut aromatik yang digunakan untuk ekstraksi minyak gaharu. Metode ini menguntungkan karena tidak terdapat residu yang tersisa, CO2 dapat dengan mudah diuapkan saat berbentuk gas pada suhu dan tekanan normal.



Nilai Ekonomi
Gaharu banyak diperdagangan dengan harga jual yang sangat tinggi terutama untuk gaharu dari tanaman famili Themeleaceae dengan jenis Aquilaria spp. yang dalam dunia perdangangan disebut sebagai gaharu beringin. Untuk jenis gaharu dengan nilai jual yang relatif rendah, biasanya disebut sebagai gaharu buaya. Selain ditentukan dari jenis tanaman penghasilnya, kualitas gaharu juga ditentukan oleh banyaknya kandungan resin dalam jaringan kayunya. Semakin tinggi kandungan resin di dalamnya maka harga gaharu tersebut akan semakin mahal dan begitu pula sebaliknya. Secara umum perdagangan gaharu digolongkan menjadi tiga kelas besar, yaitu gubal, kemedangan, dan abu. Gubal merupakan kayu berwarna hitam atau hitam kecoklatan dan diperoleh dari bagian pohon penghasil gaharu yang memiliki kandungan damar wangi beraroma kuat. Kemedangan adalah kayu gaharu dengan kandungan damar wangi dan aroma yang lemah serta memiliki penampakan fisik berwarna kecoklatan sampai abu-abu, memiliki kasar, dan kayu lunak. Kelas terakhir adalah abu gaharu yang merupakan serbuk kayu hasil pengerokan atau sisa penghancuran kayu gaharu.

Prospek Bisnis Gaharu
Sebanyak 2000 ton/tahun gaharu memenuhi pusat perdagangan gaharu di Singapura. Gaharu tersebut 70% berasal dari Indonesia dan 30% dari negara-negara Asia Tenggara lainnya. Hutan alam sudah tidak mampu lagi menyediakan gaharu. Gaharu hasil budidaya merupakan alternatif pilihan untuk mendukung kebutuhan masyarakat dunia secara berkelanjutan.
Jika satu pohon gaharu hasil budidaya menghasilkan 10 kg gaharu (semua kelas), maka diperlukan pemanenan 200.000 pohon setiap tahun.
Dengan harga mulai dari 500.000-30 juta/kg bahkan bisa lebih, tergantung asal species pohon dan kualitas gaharu dan minyak gaharu yang disuling dari gaharu kelas rendah (kemedangan) memiliki harga mulai dari 50.000-100.000/ml maka keuntungan dari budidaya gaharu dapat mengubah tingkat kesejahteraan masyarakat.


Hirukpikuknews
HirukPikuk Updated at: 23.38.00

tutorial memulai Budidaya Tanaman Buah Naga

 
buah naga
Buah Naga adalah salah satu buah yang tidak asing lagi bagi pertanian di indonesia.Disaat ini dengan membudidayakan buah naga secara organik, dapat dihasilkan buah dengan kualitas yang lebih baik. Keuntungan dari teknik budidaya buah naga secara organik adalah buah yang dihasilkan sehat tanpa adanya residu bahan kimia yang berbahaya bagi tubuh manusia dan lingkungan sekitar. Dengan demikian pencemaran lingkungan baik air, udara, maupun tanah oleh paparan pestisida bisa dikurangi. Disamping itu, penggunaan bahan organik juga dapat mengembalikan kesuburan tanah, sehingga tanah bisa digunakan untuk proses budidaya pertanian berkelanjutan.

Sejauh ini di Indonesi sistem budidaya buah naga di Indonesia masih menggunakan bahan kimia, baik itu pemupukan maupun penggunaan pestisida. Penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dengan tidak diimbangi dengan pemberian pupuk organik justru dapat menurunkan tingkat kesuburan tanah dalam kurun waktu tertentu. Sehingga berdampak kerasnya tanah di sekitarnya.adapun budidaya tanaman buah naga sebagai berikut :

SYARAT TUMBUH TANAMAN BUAH NAGA

  • Syarat tumbuh tanaman buah naga tidak berbeda jauh dengan tanaman kaktus atau tanaman gurun pasir lainnya. Karena berasal dari daerah gurun pasir yang panas dan kering maka buah naga umumnya tumbuh baik di dataran rendah hingga menengah, yaitu
    1. Buah naga sepesies Hylocereus undatus, yaitu buah naga dengan daging putih akan tumbuh baik pada ketinggian kurang dari 300 mdpl.
    2. Sedangkan buah naga spesies Hylocereus costaricensis, yaitu buah naga dengan daging super merah (super red) tumbuh baik pada ketinggian 0-100mdpl.
    3. Sementara itu buah daga spesies Selenicereus megalanthus, yaitu buah naga dengan kulit kuning, daging putih tanpa sisik, akan tumbuh baik pada daerah dingin dengan ketinggian lebih dari 800 mdpl.
  • Tanaman buah naga lebih menyukai kondisi kering dibandingkan dengan kondisi basah dengan curah hujan rendah yaitu 720 mm/tahun. Buah naga masih dapat tumbuh pada curah hujan tinggi yaitu antara 1.000-1.300 mm/tahun, akan tetapi rentang terserang penyakit busuk akar dan busuk batang. Hal ini disebabkan tanaman buah naga tidak tahan genangan air.
  • Tanaman buah naga juga membutuhkan penyinaran cahaya matahari penuh. Oleh karena itu lokasi penanaman buah naga sebaiknya dilakukan di lahan terbuka tanpa naungan. Lahan terbuka juga memberikan sirkulasi udara yang cukup bagi pertumbuhan tanaman. Susu udara ideal untuk pertumbuhan buah naga antara 26-36 derajat C.
  • Kondisi tanah yang disukai adalah tanah yang gembur serta banyak mengandung bahan organik dan hara. pH tanah optimal antara 6-7. Pada tanah masam menyebabkan akar tanaman menjadi pendek dan rusak.
  • Meskipun tahan terhadap kekeringan, bukan berarti tanaman buah naga tidak memerlukan air. Air merupakan kebutuhan vital bagi tanaman. Oleh karena itu, air harus tersedia dengan baik. Hindari lokasi yang mudah tergenang saat musim hujan, karena tanaman buah naga merupakan tanaman yang sensitif terhadap kelebihan air.
 PERSIAPAN TEKNIS BUDIDAYA BUAH NAGA

  •     Pemilihan lokasi budidaya buah naga perlu diperhatikan, hal ini bertujuan untuk memenuhi syarat tumbuh yang optimal bagi pertumbuhan buah naga. Pemilihan lokasi yang tepat akan menjadi faktor pertama yang menentukan keberhasilan budidaya buah naga.
  •    Setelah menentukan lokasi budidaya maka langkah selanjutnya adalah melakukan pengukuran pH tanah untuk menentukan jumlah pemberian kapur pertanian pada tanah masam atau pH rendah (di bawah 6,5). Pengukuran bisa dilakukan dengan kertas lakmus, PH meter, atau cairan PH tester. Pengambilan titik sampel bisa dilakukan dengan cara zigzag.
 TEKNIK  BUDIDAYA BUAH NAGA

A. Persiapan Lahan Budidaya Buah Naga

Persiapan tersebut mencakup pemasangan tiang panjatan, pembersihan lahan, serta pengolahan lahan.Buah naga merupakan tanaman merambat sehingga dibuthkan tiang panjatan untuk menopang pertumbuhan batang dan cabangnya. Bentuk atau model tiang panjatan dalam budidaya buah naga ada macam, yaitu bentuk tunggal dan bentuk kelompok atau pagar. Tiang panjatan harus kuat dan mampu bertahan selama beberapa tahun karena umur tanaman buah naga yang panjang.

B. Pembersihan Lahan

Lahan yang akan digunakan untuk budidaya buah naga perlu dibersihkan dari semak, gulma, dan sampah. Semak atau pohon kecil yang tampak di lahan dipotong sampai pangkal batan atau dicabut agar tidak tumbuh kembali. Sementara untuk cabang dan ranting pohon yang sudah besar dipotong sampai pangkal cabang atau ranting. Gulma yang tumbuh di lahan juga harus dibersihkan dengan cara dicangkul tipis-tipis.

C. Pengolahan lahan Dan Pemupukan Dasar

Lahan yang sudah bersih kemudian dicangkul di sekitar daerah penanaman buah naga. Pecangkulan bertujuan agar lapisan tanah bawah bisa tercampur dengan lapisan tanah atas sehingga penyebaran humus atau bahan organik bisa merata ke seluruh lapisan tanah. Dengan demikian, tanah menjadi gembur dan subur sehingga akar tanaman buah naga dapat menyerap unsur hara dengan baik.Lahan dengan pH tanah < 6 harus dilakukan pengapuran dengan dosis 1,2 ton/ha ditabur merata keseluruh lahan. Selanjutnya pembuatan lubang tanam sesuai dengan model tiang panjatan yang digunakan.Setelah 1 minggu kemudian Lakukan pemupukan dengan menggunakan Pupuk Organik dengan dosis 3 Kg/ hektar.Siramkan di sekitar lubang tanam.Dan jangan lupa tambahkan juga agensia hayati, seperti Natural Glio  + pupuk kandang yang telah di fermentasikan dulu selama 2 minggu.Lalu tutup tipis dengan tanah di atas pupuk kandang yang telah di fermentasikan dengan Natural Glio tersebut. Natural glio berfungsi untuk mencegah serangan penyakit setelah penanaman. Langkah selanjutnya adalah membuat drainase berupa parit diantara baris tanaman. Pembuatan drainase bertujuan untuk menampung kelebihan air pada saat musim hujan.

D. Persiapan Pembibitan Tanaman Buah Naga

Keberhasilan budidaya buah naga tidak terlepas dari usaha penyiapan bibit yang berkualitas. Bibit yang  bagus , sehat, serta bebas hama penyakit merupakan beberapa ciri bibit yang berkualitas. Bibit yang telah dipersiapkan dengan baik akan menghasilkan tanaman yang sehat dan mampu berproduksi optimal.Jumlah kebutuhan bibit tergantung dengan sistem budidaya yang digunakan. Perbanyakan bibit dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu  :

  1.  Perbanyakan generatif adalah perbanyakan menggunakan biji buah naga. Keuntungan menggunakan teknik perbanyakan generatif yaitu dapat diperoleh bibit dalam jumlah yang banyak dengan biaya yang murah. 1 buah naga minimal berisi 1.000 biji. Namun cara ini kurang populer dan jarang dilakukan oleh pembudidaya buah naga karena membutuhkan waktu yang sangat lama dan sedikit lebih sulit jika dibandingkan dengan teknik perbanyakan vegetatif. Disamping itu untuk mendapatkan biji yang bernas dan berkualitas juga aga susah, karena harus dibutuhkan buah yang benar-benar tua dan sehat. Seleksi bijii yang berkualitas juga sulit dilakukan karena ukuran biji yang sangat kecil dan memiliki penampakan yang sama. Oleh karena itu, pada artikel ini hanya akan dibahas tentang teknik dan cara perbanyakan vegetatif.
  1.  Perbanyakan vegetatif adalah perbanyakan tanaman dengan menggunaka bagian dari tanaman itu sendiri. Teknik perbanyakan ini membutuhkan biaya yang mahal, tetapi tingkat keberhasilannya lebih tinggi disamping waktu yang dibutuhkan pada fase pemeliharaan lebih singkat. Keuntungan lain dari perbanyakan vegetatif yaitu kemungkinan tanaman mengalami penyimpangan genetik sangat kecil.Perbanyakan vegetatif yang digunakan dan terbukti berhasil pada budidaya buah naga adalah dengan stek batang. Perbanyakan dengan stek memiliki tingkat keberhasilan bibit bertahan hidup lebih tinggi, pertumbuhannya lebih cepat, dan bibit yang dihasilkan berkualitas tinggi dengan genetik yang serupa dengan induknya. Selain itu teknik stek batang juga mudah dilakukan.
E. Penanaman buah Naga

  1. Setelah tanah dan tiang panjatan dibuat, bibit yang telah siap harus segera ditanam di lahan. Penanaman harus dilakukan dengan hati-hati.
  2. Penanaman yang tidak benar akan mengakibatkan bibit stress dan pertumbuhannya terhambat.
  3. Perhatikan pada saat penanaman media dalam polybag jangan sampai pecah karena akan membuat bibit kesuliatan beradaptasi akibat mengalami kerusakan akar.
  4. Selain itu, kedalaman penanaman idealnya 20% dari panjang bibit. Penanaman yang terlalu dalam akan membuat bibit mudah terserang penyakit busuk batang.
F.  Pemeliharaan Tanaman Buah Naga
  • Dalam budidaya buah naga, pemeliharaan harus tetap dilakukan secara teratur. Pemeliharaan tanaman merupakan faktor penting yang mendukung keberhasilan budidaya. Upaya pemeliharaan pada budidaya buah naga secara intensif meliputi pengairan, penyulaman, pengikatan batang atau cabang, pemupukan susulan, pemangkasan, seleksi buah, sanitasi kebun, serta pengendalian hama penyakit tanaman.Untuk pemupukan susulan bisa menggunakan Pupuk organik. apabila tanaman sudah berbuah ditambahkan pupuk-pupuk penambah nutrisi lainya supaya berbuah diluar musim serta menjaga kualitas buah Naga tersebut.Dan untuk pengendalian hama bisa menggunaka pestisida Organi.
G.  Pengairan

  •  Pada dasarnya tanaman buah naga tidak membutuhkan irigasi khusus. Umumnya pengairan dilakukan dengan sistem tadah hujan. Oleh karena akarnya yang sangat lebat, sehingga buah naga tahan terhadap kekeringan. Namun buah naga tetap memerlukan air yang cukup selama pertumbuhannya.
  • Kekurangan air selama fase vegetatif dapat membuat tanaman layu dan sulit bertunas. Oleh karena itu penyiraman tetap dilakukan seminggu sekali hingga tanaman berumur 6 bulan. Bila kondisi tanah terlalu kering, maka penyiraman dilakukan 2-4 hari sekali, tergantung pada kondisi di lahan.
  • Pada fase generatif, yang ditandai dengan munculnya bunga dan buah, maka penyiraman dilakukan setiap 10-14 hari sekali atau menyesuaikan kondisi bila tanah terlalu kering. Kekurangan air pada fase ini bisa mengakibatkan bunga rontok dan buah yang terbentuk tidak sempurna. Penyiraman dilakukan pada pagi  hari.
  • Selain dengan penyiraman, pengairan juga bisa dilakukan dengan cara penggenangan. Caranya yaitu dengan perendaman air di parit sedalam kurang lebih 20 cm. pemenuhan air di parit  dilakukan selama 1-1,5 jam, setelah itu air di parit harus segera dibuang atau dialirkan keluar.

H.  Penyulaman Tanaman

  • Penyulaman merupakan kegiatan mengganti tanaman yang mati disebabkan karena serangan hama, penyakit, atau sebab lain.
  • Tujuan dari penyulaman yaitu agar tanaman bisa berproduksi optimal dan efisiensi lahan tetap tinggi. Penyulaman dilakukan pada umur 7 hari setelah tanam hingga tanaman berumur 2 bulan.

I.  Pengikatan Batang Atau Cabang

  • Letak batang atau cabang perlu diatur agar pertumbuhan tanaman normal dan tidak salah bentuk. Pengaturan letak turut berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan tanaman.
  • Pengaturan dilakukan dengan pengikatan batang atau cabang ke tiang panjatan.
  • Pengikatan yang terlambat membuat pertumbuhan batang atau cabang melengkung dan tidak teratur. Akibatnya cabang produktif tidak tumbuh ke atas.
  • Pengikatan dilakukan setiap 20-25 cm ke tiang panjatan.
  • Tali pengikat bisa menggunakan tali rafia atau tali lunak lainnya dengan membentuk angaka 8.
  • Pengikatan jangan terlalu kencang agar batang atau cabang tidak terjepit yang dapat mengakibatkan luka atau bahkan patah.
  • Selain itu tujuan pengikatan juga untuk mempermudah akar udara menempel pada tiang panjatan sehingga memperkokoh posisi tanaman.
J.  Pemupukan

  • Meskipun tanah telah menyediakan hara, akan tetapi ketersediaan haranya tidak mencukupi untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman selanjutnya. Oleh karena itu, perlu diberi pupuk susulan atau pupuk tambahan.
  • Untuk pemupukan susulan bisa menggunakan Pupuk organik yang di campurkan dengan 50 % pupuk kimia yang biasa di pakai.
  •  Apabila tanaman sudah berbuah ditambahkan pupuk-pupuk penambah nutrisi lainya supaya berbuah diluar musim serta menjaga kualitas buah Naga tersebut.
  •  Frekuensi pemberian pupuk dilakukan dua bulan sekali.
  • Untuk pengendalian hama bisa menggunaka Pestisida Organik .Lakukan penyemprotan 15 hari sekali.
K. Pemangkasan Tanaman Buah Naga

  • Pemangkasan tanaman bertujuan untuk memperoleh bentuk yang baik sehingga menunjang pertumbuhan yang baik.
  • Selain itu, pemangkasan juga bertujuan untuk membuang bagian tanaman yang tidak produktif seperti cabang yang kerdil atau kurus.
  • Batang atau cabang yang tidak produktif akan menghambat pembentukan tunas baru dan buah karena berkompetisi dengan batang produktif dalam memperoleh hara.

L.  Seleksi bunga dan buah

  • Tanaman yang sudah mulai berbungan ditandai dengan munculnya bunga pada cabang produktif.
  • Biasanya akan muncul lebih dari satu bunga.
  • Seleksi bunga dilakukan saat bunga masih kecil, sehingga nutrisi tidak digunakan untuk perkembangan bunga yang dibuang.
  • Pilih 5-6  bunga yang paling besar, sehat, berwarna cerah, dan segar pada setiap cabang produktif dengan jarak antar bunga kurang lebih 30 cm.
M.  Sanitasi Kebun

  • Sanitasi kebun merupakan kegiatan membersihkan kebun dari gulma atau tumbuhan pengganggu, batang atau cabang bekas pangkasan, serta perawatan saluran irigasi agar tidak menimbulkan genangan air saat musim hujan.
  • Tujuan dari Snitasi  tersebut adalah untuk mencegah penyebaran hama penyakit, menjaga kelembaban areal pertanaman, dan pengurangi perebutan unsur hara antara tanaman buah naga dengan gulma.
  • Batang atau cabang bekas pangkasan segera dikumpulkan dan dimusnahkan saat melaukan pemangkasan.
  • Pengendalian gulma dilakukan dengan melakukan penyiangan rutin.
  • Pencangkulan di sekitar titik tanam dilakukan dengan hari-hati agar tidak merusak perakaran tanaman buah naga.

N. Pemanenan

Ciri-Ciri buah naga siap panen :

  •     Umur buah mencapai 50-55 hari sejak setelah muncul bunga.
  •     Warna kulit buah mengkilat dengan sisik berubah dari hijau menjadi kemerahan.
  •     Mahkota buah telah mengecil.
  •     Kedua pangkal buah keriput dan kering.
  •     Bentuk buah bulat sempurna dan besar dengan bobot diperkirakan 400-600 g.

        Waktu panen dilakukan pada pagi hari antara pukul 06.00-09.00 atau sore hari antara pukul 15.00-17.00. Pemanenan dilakukan saat cuaca cerah dan tidak hujan. Hindari panen pada kondisi lembab karena dapat memicu serangan patogen pada saat penyimpanan.

Pemanenan buah naga harus dilakukan dengan benar untuk menjaga kualitas buah. Cara dan tahap pemanenan adalah sebagai berikut :

  •     Kenakan sarung tangan agar tidak melukai kulit buah.
  •     Gunakan gunting atau alat potong lain yang tajam untuk memotong tangkai buah.
  •     Potong buah tepat pada tangkainya, lakukan dengan hati-hati, jangan sampai melukai kulit buah maupun percabangan tempat buah tersebut.
  •     Bungkus buah yang telah dipanen dengan koran dan diletakkan ke dalam keranjang dengan posisi tangkai buah menghadap ke bawah. Bagian bawah keranjang dilapisi dengan daun kering atau kertas koran.
  •     Bagian atas buah juga dilapisi dengan daun kering atau kertas koran untuk mengurangi tekanan buah pada lapisan di atasnya.
  •     Tinggi lapisan buah tidak lebih dari 3 lapis agar buah bagian bawah tidak menerima beban terlalu berat.










Hirukpikuknews
HirukPikuk Updated at: 23.36.00

Teknik Dan Cara Budidaya Tanaman Buah Leci

 
leci
Tanaman buah leci berasal dari daratan Cina Selatan, tapi karena memang buah leci cukup dikenal akan manfaatnya bagi kesehatan manusia dan disukai karena rasanya cukup manis, maka banyak sekali masyarakat Indonesia yang melakukan budidaya leci.

Beberapa wilayah di Indonesia seperti Kledung di Temanggung, Jawa Tengah sangat berniat untuk mengembangkan budidaya tanaman leci sebagai wujud untuk menciptakan pertanian ketahanan pangan berkelanjutan dengan menerapkan sistem komoditi agribisnis.

Syarat Tumbuh

Leci dapat tumbuh dengan baik di daerah sejuk dan membutuhkan cukup banyak air tapi yang tidak tergenang. Sebaiknya kedalaman air tanah yang sesuai untuk budidaya leci hingga 1 meter, curah hujan yang tinggi sekitar rata-rata 2.000 mm / tahun juga baik untuk budidaya leci. Dataran tinggi dengan ketinggian lebih dari 700 m dpl merupakan daerah yang sangat cocok untuk pertumbuhan leci. Sedangkan untuk suhu udara yang baik adalah sekitar 9-19 derajat celcius saat musim hujan dan 25-33 derajat celcius saat musim kemarau.

Penyiapan Lahan

Jenis tanah yang cocok adalah tanah gembur yang berhumus sangat banyak, tanah yang berat dan padat akan menghalangi pertumbuhan akar sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman ini. Tanah untuk budidaya leci juga dapat diolah dengan cara dibajak atau dicangkul sedalam 30 cm. Namun pada tanah yang subur dan mengandung banyak humus dapat langsung dibuat lubang tanam untuk menekan biaya produksi.

Umumnya ukuran lubang untuk budidaya leci adalah 60 cm x 60 cm x 60 cm dengan jarak 10 m x 12 m. Untuk membuat lubang tanam sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan atau kira-kira 2-4 minggu sebelum memulai masa tanam. Langkah-langkah untuk membuat lubang adalah sebagai berikut:

Buat lubang dengan ukuran 60 cm x 60 cm x 30 cm, dan tanah lapisan atas diusahakan untuk diletakan di tempat atau areal yang terkena sinar matahari pagi secara langsung.
Setelah itu lubang diperdalam hingga mencapai ukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm, usahakan tanah lapisan bagian bawah diletakan di areal yang terkena sinar matahari siang secara terpisah dari timbunan tanah bagian lapisan atas.
Lubang tanam dikeringkan selama kurang lebih 2 minggu agar gas-gas beracun dalam tanah menguap.
Tanah galian lapisan bawah kembali dimasukan ke tempat asal bagian lubang.
Tanah galian atas dicampur dengan pupuk kandang matang sebanyak 20-40 kg, 1/2 kg urea dan kapur pertanian 4 kg / lubang tanam, setelah diaduk rata lalu masukan tanah tersebut kembali ke dalam lubang tanam.

Penyiapan Bibit

Untuk bibit leci yang baik kira-kira berusia 1-1,5 tahun, memiliki pertumbuhan yang sehat dan normal, serta berukuran seragam. Sebaiknya diusahakan untuk mengadaptasikan bibit terlebih dahulu pada lokasi sekitar kebun agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan setempat kira-kira sebulan sebelum masa tanam.

Ukuran kebutuhan bibit leci tergantung pada jarak tanam dan kesuburan tanah, jika lahan seluas 1 hektar dengan jarak tanam 14 m x 14 m atau 12 m x 12 m, dibutuhkan bibit leci antar 50-70 batang.


Penanaman

Untuk waktu budidaya penanaman tanaman leci dapat dilakukan setiap saat dengan syarat memang daerah tersebut selalu tersedia air yang cukup, tetapi jika tidak selalu tersedia air sebaiknya musim hujan adalah waktu tanam yang paling tepat.

Berikut adalah beberapa proses untuk penanaman bibit leci:

Media tanam dalam polybag yang berisi bibit leci disiram dengan air bersih hingga cukup basah atau lembab, kemudian polybag disobek untuk mengeluarkan bibit bersama akar dan medianya.
Bibit tanaman leci ditanam tepat di tengah lubang tanam yang telah disediakan, lalu tanah disekitar pangkal batang bibit ditekan dan dipadatkan pelan-pelan.
Tanah disekeliling pangkal batang leci disiram dengan air bersih hingga cukup basah atau lembab.
Air setinggi 50-150 cm ditancapkan dekat pangkal batang sebagai penopang bibit leci agar tidak mudah rebah diterpa angin.

Penyiraman – Pengairan
Untuk menjaga agar budidaya tanaman leci sukses dan tidak layu, perlu untuk selalu melakukan penyiraman atau pengairan secara teratur, mengatur temperatur tanah, melarutkan zat-zat makanan yang diperlukan oleh tanaman serta menjaga kelembaban tanah.

Biasanya tanaman leci yang baru berumur 3 tahun selalu perlu membutuhkan cukup air, sedangkan tanaman leci yang sudah dewasa sudah bisa mencari air secara mandiri karena mempunyai akar yang dalam dan dapat menembus air tanah.

Penyiraman atau pengairan pada tanaman leci yang masih mudah perlu dilakukan secara berkala antar 1-2 kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari terutama pada saat tidak sedang hujan. Ketika tanaman memasuki usia dewasa dapat mengurangi penyiraman secara berangsur-angsur, tetapi dengan melihat dan memperhatikan pertumbuhan tanaman.

Beberapa teknik penyiraman yang dapat dilakukan dengan cara: Menggunakan ember kecil, gayung atau gembor yang telah diisi air, kemudian siramkan air pada tanah di sekitar tnaman leci hingga cukup basah atau lembab. Bisa juga mengalirkan air dari sumber secara langsung dengan menggunakan selang plastik, yang kemudian disiramkan atau disemprotkan ke tanah di sekeliling tajuk tanaman leci. Bisa juga dengan cara menggunakan bak penampung air lalu salurkan air melalui pipa atau selang plastik tersebut ke parit-parit di sekeliling pohon leci.

Penyulaman

Penyulaman bertujuan untuk selalu menjaga jumlah tanaman leci pada luas lahan sesuai dengan populasi yang tepat berdasarkan perhitungan jarak tanam. Waktu menyulam yang paling baik adalah pada musim hujan agar tanaman leci cepat menyesuaikan diri dengan tanaman yang ditanam terlebih dahulu dan untuk menjaga agar tanaman tersebut tidak mengalami kekeringan.

Penyulaman dapat dilakukan dengan cara membongkar tanaman leci yang abnormal atau mati, kemudian digantikan dengan bibit leci yang sehat.

Pemasangan Mulsa

Pemberian mulsa bertujuan untuk menjaga kestabilan kelembaban tanah, menekan pertumbuhan gulma, mengurangi penguapan air dari dalam tanah, dan menyuburkan tanah pada bidang perakaran tanaman leci. Mulsa yang umum digunakan adalah jerami padi dan rumput kering. Pemasangan mulsa dilakukan segera setelah mulai menanam.

Cara memasang mulsa yang baik yaitu dengan menyusun jerami atau rumput kering hingga menjadi bentuk seperti tikar setebal 3-5 cm, untuk digunakan menutup perinukan tanah di sekeliling tajuk tanaman leci.

Penyiangan dan Penggemburan Tanah

Penyiangan bertujuan untuk membersihkan gulma dan rumput liar yang menjadi pesaing tanaman leci dalam hal kebutuhan unsur air dan sinar matahari. Penyiangan pertaman biasanya dilakukan setelah 2 minggu setelah tanam sekalian menggemburkan tanah. Penyiangan berikutnya biasanya dilakukan sekitar 1-2 bulan kemudian, yang disesuaikan dengan melihat pertumbuhan leci. Penyiangan dilakukan dengan cara membersihkan tanaman gulma yang tumbuh di sekitar batang atau tajuk leci, kemudian menimbunnya pada lubang untuk dijadikan pupuk kandang atau kompos.

Pemupukan

Pemupukan mutlak diperlukan dalam budidaya tanaman leci, untuk menjamin pertumbuhan dan produksi buah leci. Jenis-jenis pupuk yang diberikan adalah pupuk organik dan anorganik. Pupuk organik dapat berupa kotoran ternak, kompos dan bisa juga menggunakan pupuk organik khusus buatan pabrik.

Untuk pupuk anorganik atau pupuk buatan parbik yang digunakan dapat berupa pupuk tunggal, misalnya UREA, TSP, KCI, atau pupuk majemuk seperti NPK (15-15-15).

Pemupukan tanaman leci dilakukan mengikuti face pertumbuhan, seperti sebagai berikut:

Pemupukan tanaman mudah (dibawah usia 3 tahun), dapat dimulai kira-kira sebulan setelah masa tanam, yaitu dengan 20 gram urea + 20 gram TSP, 10 gram KCI/pohon. Pemupukan berikutnya dilakukan pada umur 2 bulan menggunakan pupuk yang terdiri dari alas 20 gram Urea + 20 gram TSP + 10 gram KCI/pohon. Untuk jadwal pemupukan berikutnya biasanya dilakukan setiap empat bulan dengan peningkatan atau penambahan dosis pupuk sebanyak 10-20 % dari dosis sebelumnya.
Pemupukan tanaman dewasa yang telah berbuah, dilakukan 2-3 kali/tahun, yaitu pada saat tumbuh pucuk (trubus) atau tiga bulan menjelang pembungaan, ketika buah mulai besar, dan buah selesai dipanen. Jenis dan dosis pupuk diusahakan sesuai dengan usia dan fase pertumbuhan tanaman leci.

Pemupukan tanaman leci dilakukan dengan cara berikut:

Mula-mula dibuat parit atau larikan selebar 15-20 cm dengan kedalaman sekitar 30 cm di sekeliling tajuk tanaman, kemudian pupuk ditaburkan secara merata dan ditutup dengan tanah setebal 20-30 cm, agar pupuk tersebut tidak cepat menguap dan dapat kontak langsung dengan air tanah, sehingga segera dapat dimanfaatkan oleh tanaman.
Pemupukan juga dapat dilakukan dengan melarutkan pupuk dalam air, misalnya 5 kg NPK dilaruktan dengan air sebanyak 200 liter, kemudian disiramkan pada tanah disekeliling tajuk tanaman leci. Takaran larutan pupuk berkisar antara 20-30 liter per potion atau disesuaikan dengan pertumbuhan tanaman buah leci.

Demikian adalah salah satu cara dan teknik terbaik dalam budidaya tanaman buah leci yang mungkin artikel ini dapat bermanfaat bagi orang-orang yang ingin melakukan budidaya tanaman buah leci.
Hirukpikuknews
HirukPikuk Updated at: 07.59.00

pemanfaatan pekarangan rumah untuk budidaya Jambu Madu Deli

 
jambu air
Budidaya Jambu Madu Deli dengan sistem Tabulampot tidak memerlukan lahan yang luas, namun dengan hanya pemanfaatan lahan pekarangan sekitar rumah, kita sudah dapat mengebunkan Jambu Madu Deli. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam sistem tabulampot ini,ada beberapa tahap yang harus kita perhatikan :

  •     Pemilihan bibit.
  •     Media tanam yang sesuai.
  •     Tempat / wadah.
  •     Perawatan .
  •     Pasca panen.

A. Pemilihan bibit

Bibit yang akan kita tanam harus jelas asal – usulnya dari sumber yang dapat dipercaya, karena dari bibit yang kita tanam merupakan titik awal penentu keberhasilan daripada budidaya tabulampot kita.

Media tanam

Media tanam termasuk bagian yang penting dalam mendukung keberhasilan budidaya Jambu Madu Deli dengan sistem Tabulampot, karena media yang tidak sesuai dengan syarat tumbuh dalam sistem ini maka akan berakibat tanaman tidak akan berkembang baik sesuai dengan yang kita inginkan. Adapun media yang di anjurkan dalam budidaya Jambu Madu Deli diantaranya  :

  • Tanah / kompos yang steril dari berbagai penyakit yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman baik cendawan maupun nematoda yang menyerang pada sistem perakaran tanaman.
  • Pupuk kandang yang sudah di fermentasi dengan natural glio selama 2-3 minggu.
  • Pencampuran antara tanah dengan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1 ( 2 tanah + 1 pupuk kandang ).

Adapun tempat untuk media tanam campuran tanah + pupuk kandang bisa menggunakan diantaranya :

  • Polybag khusus dengan kadar kemurnian 100% dengan ukuran minimal 60×70cm ini mampu bertahan 3-4 tahun.
  • Pot/ ember pelastik anti pecah dengan diameter minimal 60 cm ini mampu bertahan hingga 4-5 tahun.
B. Pemupukan

Pemupukan  dapat menggunakan campuran pupuk organik dengan pupuk kimia ( NPK ) dengan interval pupuk organik setiap 1 bulan sekali  sedangkan pupuk kimianya per 7-10 hari sekali. dan apabila tanaman sudah berbuah ditambahkan pupuk yang lain penambah nutisi sebagai pupuk khusus buah.

Pengendalian hama.

Hama penggangu tanaman Jambu Madu Deli terutama pada saat daun muda biasanya hama yang menyerang yaitu :

  •     belalang
  •     ulat
  •     kutu
  •     lalat buah (dacus pedetris )
Untuk penyemprotan hama dapat menggunakan Pestisida organik yang dapat di sesuaikan dengan musim. Apabila Musim kemarau, penyemprotan hama cukup 1 bulan sekali dan Disaat musim penghujan bisa 1 – 3 minggu sekali tergantung serangan pengganggu tanaman jambu. Biasanya musim penghujan serangan hama lebih tinggi bila di banding pada musim kemarau.Lakukan penyemprotan hama di sore hari.

C. Pemangkasan

Untuk menyeimbangkan cabang tanaman , maka perlu adanya pemangkasan agar pohon sesuai dengan kondisi tanaman.

Dalam pemangkasan ada 2 tahap.

  •     Pemangkasa pembentukan karakter pohon
  •     Pemangkasan penyeimbang

agar produksi buah tetap stabil tidak terganggu dengan percabangan yang mengakibatkan buah tidak maksimal.dilakukan  pemangkasan 6-8 bulan sekali.

D. Penyiraman

Penyiraman termasuk bagian yang penting, karena hal iniakan mempengaruhi pertumbuhan dan rasa daripada buah itu sendiri.

Adapun penyiraman yang baik yaitu :

  •     Umur 1- 6 bulan cukup satu kali penyiraman dengan volume 3- 4 liter air
  •     Umur 6- 12 bulan penyiraman dua kali sehari, yaitu pagi dan sore
  •     Umur 12 bulan dan seterusnya pada saat pembuahan pada saat kemarau maka penyiraman tiga kali sehari.
E. Pasca panen

Untuk menghasilkan buah jambu yang super maka perencanaan dari awal sejak berbunga harus sudah di program,yaitu :

  •     Penjarangan bunga.
  •     pemilihan bakal buah.
  •     Pembungkusan

Hal ini dilakukan untuk mendapatkan buah yang berkualitas.Agar buah yang dihasilkan sesuai dengan yang kita inginkan, sehingga pada akhirnya mendapatkan buah yang maksimal, tingkat kematangan sesuai yang di inginkan konsumen, sehingga buah yang di hasilkan seragam dan sesuai dengan permintaan pasar.





Hirukpikuknews
HirukPikuk Updated at: 07.55.00

Menanam bawang putih media pot atau polybag

 
bawang
Cara menanam bawang daun dalam pot atau polybag tidak jauh berbeda dengan budidaya di lahan terbuka. Jenis benih yang ditanam dan pupuk yang diperlukan relatif sama. Hanya saja jenis media tanamnya berbeda sehingga memerlukan perlakuan khusus.
Bawang daun (Allium fistulosum) merupakan jenis sayuran yang sering dijadikan bumbu atau bahan penyedap masakan. Bentuk daunnya bulat panjang, berongga seperti pipa. Ujungnya meruncing sedangkan pangkalnya padat berwarna putih. Pada jenis yang lain seperti Allium porum bentuk daunnya pipih seperti pita.
Daerah paling ideal untuk menanam bawang daun adalah dataran tinggi dengan rentang ketinggian 900-1700 meter dpl. Suhu pertumbuhan ideal berkisar 19-24oC dengan kelembaban 80-90%. Meskipun begitu, bawang daun masih bisa tumbuh di dataran rendah yang bersuhu panas.
Pada kesempatan kali ini alamtani akan mengulas cara menanam bawang daun dengan media tanam yang diletakkan dalam pot atau polybag. Hal-hal pokok yang dibahas antara lain, cara membenihkan, membuat media tanam, teknis budidaya dan perawatan hariannya.

bawang1


Waktu penanaman

waktu penanaman yang baik sebaiknya di lakukan pada waktu musim panas atau di lakukan pada ssaat matahari bersinar dan tidak di sarankan menanam pada musim penghujan


Menyiapkan benih
Seperti telah disinggung sebelumnya, terdapat dua jenis bawang daun yakni Allium fistulosum atau bawang daun bakung dan Allium porum bawang daun prei. Saat ini yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah jenis bawang daun bakung.
Bawang daun bisa diperbanyak secara generatif maupun vegetatif. Perbanyakan generatif adalah perbanyakan bibit tanaman melalui biji atau benih. Sedangkan perbanyakan vegetatif adalah perbanyakan tanaman dengan cara memecah anakan dari rumpun utama.
Perbanyakan benih secara generatif didapatkan dengan menyemai biji atau benih terlebih dahulu. Sebelum benih disemai siapkan media penyemaian terlebih dahulu,. Adapun cara penyemaiannya adalah sebagai berikut:
  • Menggunakan bawang putih bertunas, agar bawng putih bertunas masukan bawang putih dalam kulkas selama 1-2 minggu hingga tunasnya tumbuh
  • Menggunakan bawang putih tanpa tunas, cukup kupas kulit luarnya
  • Bila tempat persemaian berupa bedengan tebarkan benih bawang daun dalam alur yang telah dibuat sedalam 1 cm. Jarak antar alur 10 cm, menggunakan bawang putih yang sudah bertunas
  • Bila tempat persemaian berupa tray semai atau polybag, letakan benih bawang daun dalam setiap wadah 1-2 biji. Tanam sedamal 2-3 cm.
  • Tutup tempat persemaian dengan karung goni yang dibasahi atau daun pisang. Setelah benih berkecambah, buka penutup tersebut.ini dilakukan jika menggunakan bawang putih tanpa tunas
  • Lakukan penyiraman setiap hari, pagi dan sore hari. Berikan pupuk urea, ZA atau pupuk cair organik. Pemberian pupuk urea dan ZA sebaiknya dilarutkan dalam air. Kemudian siramkan pada media semai. Bila menggunakan pupuk organik cair , encerkan terlebih dahulu sebelum disiramkan.
  • Bibit bawang daun yang telah berumur 2 bulan atau tingginya mencapai 10-15 cm.
Perbanyakan benih vegetatif bisa diambil dari tanaman bawang daun yang telah berumur lebih dari 2,5 bulan. Penampakan tanaman yang akan diambil harus memiliki rumpun banyak, terlihat segar, tidak terserang hama dan penyakit. Cara menyepihnya adalah sebagai berikut:
  • Bongkar rumpun tanaman bawang daun beserta akar-akarnya. Cara membongkar jangan dicabut, melainkan digali dengan tangan atau kored.
  • Bersihkan dengan tangan tanah-tanag yang menempel disekitar akar. Buang daun dan akar yang terlihat layu atau tua.
  • Pecah-pecah rumpun tanaman tersebut menjadi beberapa bibit tanaman atau anakan. Setiap anakan sebaiknya terdiri dari 1-3 batang.
  • Papas daun bagian atas untuk mengurangi penguapan. Pemapasan dilakukan kira-kira sepertiga bagian dari atas. Pemapasan juga akan merangsang tumbuhnya tunas baru.
  • Bibit bawang daun yang telah disiapkan bisa langsung ditanam. Bila bibit tersebut tidak langsung ditanam, sebaiknya lama penyimpanan tidak lebih dari 5-7 hari dengan penyimpanan di tempat teduh dan lembab.




Menyiapkan media tanam

Media tanam pot atau polybag untuk menanam bawang daun sama dengan menanam jenis sayuran lainnya. Pada dasarnya media tanam tersebut harus bersifat poros, subur, gembur dan banyak mengandung bahan organik. Tingkat keasaman tanah yang untuk menanam bawang daun berkisar pH 6,5-7,5.
Media tanam pot atau polybag terdiri dari tanah,kompos  dan arang, sekam  dengan perbandingan 2:1:1, atau tanah dan pupu kandang dengan perbandingan 2:1. ]Aduk media tanam yang dipilih hingga merata, kemudian masukkan ke dalam pot atau polybag yang telah dipersiapkan. Padatkan media tanam dengan tangan tangan, jangan diinjak karena akan menjadi terlalu padat. Untuk polybag bisa menggunakan ukuran 0.08 x 30/15 x 30, sedangkan untuk pot kira-kira seukuran kaleng cat 5 kg.

Cara menanam bawang daun

Untuk cara menanam bawang daun secara organik, bibit langsung ditanam. Sedangkan untuk cara non-organik bibit bisa direndam dahulu dalam larutan fungisida sebelum ditanam. Perendaman dilakukan pada dosis rendah, 30-50% dari dosis anjuran selama 10-15 menit. Fungsinya untuk menghindari serangan jamur pada akar.
Buat lubang tanam pada pot atau polybag yang telah disiapkan. Dalam lubang tanam sekitar 10 cm untuk bibit yang belum bertunas,jika bibit yang telah di siapkan memiliki tunas cukup ditanam sekitar 2-3 cm.  Masukan bibit tanaman, satu wadah untuk satu tanaman. Posisi tanaman tegak berdiri. Kemudian tutup dengan media tanam hingga kuat mencengkeram. Siram bibit tersebut agar tetap lembab.
Waktu yang tepat untuk penanaman pada pagi data sore hari. Saat matahari tidak terlalu terik sehingga suhu udara dan laju respirasi tidak terlalu tinggi. Letakkan pot atau polybag di tempat yang mendapat penyinaran matahari penuh.

Penyiraman dan pemupukan

Penyiraman pada awal pertumbuhan sebaiknya dilakukan setiap hari. Dalam tanaman hendaknya tanah atau media tanam jangan terlalu basah atau becek, air tergenang, karena bisa menyebabkan busuk akar.
Selanjutnya, penyiraman bisa dilakukan setiap 2-3 hari sekali, atau tergantung kondisi cuaca dan keadaaan media tanam. Waktu penyiraman yang paling baik, pagi sebelum jam 9.00 atau sore hari setelah pukul 17.00.
Untuk cara menanam bawang daun organik, berikan pupuk kompos atau pupuk kandang pada hari minggu ke-4 sebanyak satu kepalan tangan untuk setiap wadah dan diulang pada minggu ke-8. Pupuk ditabur di sekitar pangkal batang tanaman.
Sedangkan untuk cara menanam bawang daun non-organik, bisa diberikan pupuk urea atau ZA pada minggu ke-3 dan minggu ke-6. Jumlah pupuk sekitar 5 gram per wadah. Pemberian pupuk sebaiknya dilarutkan dalam air, kemudian disiramkan pada media tanaman.
Bisa juga dengan menambahkan pupuk daun atau pupuk organik cair apabila dibutuhkan. Pemberian pupuk disemprotkan pada daun secara merata atau dikocorkan ke tanah. Aplikasi pupuk bisa diberikan mulai hari ke-10 dan diulang setiap 10 hari hingga 3-4 kali.

Pemanenan

Bawang daun bisa dipanen setelah berumur 2,5 bulan sejak bibit ditanam, 5 bulan dari biji mulai disemai. Ciri-ciri bawang daun siap panen adalah jumlah rumpunnya mulai banyak dan sebagian daunnya sudah ada yang menguning. Panen sebaiknya dilakukan pagi atau sore hari.
Namun untuk keperluan harian tidak perlu menunggu hingga tanaman bawang daun siap panen. Tanaman yang telah berumpun banyak bisa diambil sebagian kapan saja. Dan sisanya dibiarkan tumbuh.
Di lahan terbuka, produktivitas bawang daun bisa menghasilkan hingga 10-40 ton/hektar. Produktivitas ini tergantung pada kualitas benih, teknis budidaya dan kecocokan geografis.
Hirukpikuknews
HirukPikuk Updated at: 04.37.00
FOLLOW ME hirukpikuk
Join Our Newsletter